Rantau dan Rindu

 

Rantau dan Rindu

Oleh: Fitri Maela Anjani

 

“Pengorbananku adalah tekadku, langkahku adalah ikhtiarku Impianku adalah cita-citaku, Kuyakin apa yang kugapai akan membahagiakanmu dan kuyakin kebahagian yang utuh akan kembali kelak kita bersatu”. Yaa, itulah sebuah kalimat yang memotivasiku. Aku Fitri Maela Anjani, seorang perempuan biasa dari keluarga yang sederhana namun tampak luar biasa, terlahir dari sosok kedua orang tua yang benar-benar membuat aku bangga memiliki mereka. Anak terakhir, banyak yang bilang anak terakhir itu anak yang paling manja paling apa-apa pasti selalu di turutin, padahal si bungsu mandiri tidak ingin menyusahkan kakak-kakak nya apalagi orang tuanya dan menurutku harapan terakhir itu dipikul oleh si bungsu yang selalu diharapakan untuk bisa lebih baik lebih berhasil dari kakak-kakaknya.

Setiap orang tentunya menginginkan jalan kehidupan yang lurus, menginginkan yang namanya kesuksesan, menginginkan yang namanya kebahagiaan. Nah, kalimat itu merupakan semua yang saya inginkan. Untuk meraih masa depan memanglah tidak mudah, banyak sekali kegagalan-kegagalan yang telah aku lewati. Tetapi dari kegagalan tersebut banyak sekali pengalaman dan pembelajaran yang di dapatkan, karena kegagalan katanya merupakanya keberhasilan yang tertunda. Dari kata “tertunda” ini yang membuat aku untuk bersungguh-sungguh dengan apa yang saya inginkan yaitu ingin mensukseskan kedua orang tua atas jasa yang telah diberikan.

2021, dimana perjalananku dimulai bertekad (meyakinkan diri) untuk berani mengambil keputusan pergi merantau ke tanah orang. Demi menimba ilmu aku rela merindu orang tua juga sanak saudara. Perginya seseorang dari asal dimana ia tumbuh besar ketanah rantauan untuk menjalani kehidupan baru dan  mencari pengalaman baru, yang biasanya kita sebut dengan merantau ialah sebuah tindakan satu langkah lebih maju dibandingkan orang-orang yang menetap di daerahnya. Memutuskan pilihan untuk keluar dari zona nyaman memang merupakan tantangan khusus untuk diri pribadi, akan tetapi untuk melalui hidup di perantauan akan mengajarkan ku arti sesungguhnya bahwa hidup ini butuh tekad dan semangat yang kuat. Teringat perkataan Imam Syafi’i, “Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang”. Perjuangan hidup di kota orang bukanlah sebuah tindakan yang dapat diambil oleh semua orang. Oleh karena itu tak sedikit dari mereka berbangga hati dengan julukan anak perantau. Menjadi perantau itu bukan sesuatu yang mudah, harus pergi meninggalkan kampung halaman dan juga keluarga tersayang. Susah dan senang aku alami ketika sudah pergi merantau di tanah orang ada banyak hal yang membuatku merasakan bahwa hidup ini sangat berarti. Disini  merasakan yang namanya kesepian, kesendirian, kerinduan dan bahkan ketika semua itu tidak terbendung lagi jalan keluarnya menangis sendiri merindukan orang-orang terkasih yang jauh disana. Saya berjalan kesana kemari hanya untuk mencari setitik ilmu. Hanya bisa mengingat kata-kata terakhir orang tua yang memberikan motivasi untuk saya dalam membentuk Kesabaran dalam hati agar saya bisa menerima keadaan hidup di tanah perantauan. Walau terkadang keadaan tidak seperti yang saya inginkan, tapi itulah yang harus saya lalui. Menjadi seorang minoritas yang harus memberikan warna kepada mayoritas. Disini aku merasa bangga dan banyak belajar kepada diri aku sendiri, bagaiamana harus hidup diantara mayoritas sedangkan aku minoritas. Aku punya kelebihan disatu sisi. Aku hebat bisa masuk ke ruang yang lebih luas dengan melakukan adaptasi yang kuat. Masa perantauan adalah saat yang sulit sebab ia mempunyai rintangan tersendiri, tetapi dari situlah belajar memahami dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ketika merantau semakin jauh dari kampung halaman, semakin banyak pula ilmu dan teman yang akan di dapat. Di kota seribu masjid ini, aku belajar berbagai macam hal, bukan hanya keilmuan yang ada di kampus, tetapi juga mendapatkan pelajaran yang paling berharga selama aku tinggal di sini, bahwasanya kekeluargaan dalam perantaun memanglah sangat penting bagi para perantau. Dari semua itu, memang perkataan Imam Syafii bisa dibuktikan ketika kita dalam perantauan. Jika memang niat kita baik disini, insyaallah rezeki itu akan datang. Karena rezeki tidak harus selalu yang bernilai uang. Teman baik dan pengalaman juga sebuah rezeki yang bahkan tidak ternilai harganya dengan apapun.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUNJUNGAN PRAKTIKUM JURNALISTIK PRODI KPI SEMESTER 3 UIN MATARAM KE RADIO LOMBOK FM DAN KANTOR PWLT

MALIN KUNDANG

Kasus Pelecehan Seksual Penumpang Transjakarta